Artikel

IPM Aksi Damai Tolak Ujian Nasional

Jakarta – Ujian Nasional telah merenggut hak anak. Pendidikan yang seharusnya menjadi hak anak semestinya diselenggarakan dalam suasana yang kreatif, memacu semangat, dan menyenangkan. Namun dengan adanya Ujian Nasional, anak-anak justru belajar dalam kondisi tertekan, takut, stress bahkan depresi. Ujian Nasional juga menyebabkan anak-anak yang tidak lulus kehilangan hak-nya untuk mendapatkan pendidikan.

Hal tersebut disampaikan oleh Virgo Sulianto Gohardi, Koordinator Lapangan aksi Nasional dalam rilis yang disampaikan pada Redaksi www.muhammadiyah.or.id melalui email // r_webmuh@yahoo.co.id

Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya

pada hari Selasa (5/01/2010). Aksi tersebut dilaksanakan dengan berjalan mulai Bundaran HI menuju Istana Negara dengan melakukan aksi treatrikal dan orasi dari PP IPM dan PB PII.

Selanjutnya, Pemerintah seharusnya tidak memaksakan kehendaknya untuk tetap menyelenggarakan Ujian Nasional. Tapi harus mendengarkan aspirasi anak, mereka memiliki hak bicara untuk dihargai. Pemerintah juga jangan mengabaikan tuntutan-tuntutan masyarakat berkaitan penolakan penyelenggaraan Ujian Nasional. Dalam amar putusan atas gugatan masyarakat terhadap pemerintah mengenai Ujian Nasioanal tersebut ada beberapa hal yang harus dipenuhi pemerintah, diantaranya Pemulihan Mental Korban UN, Peningkatan Kualitas Guru, Peningkatan Sarana Prasarana serta Pemerataan Akses Informasi. Ini semua yang harus dilaksanakan oleh pemerintah atas kelalaiannya dalam pemenuhan dan perlindungan hak asasi atas pendidikan melalui kebijakan pemerintah berupa Ujian Nasional. Ungkap Virgo yang juga menjabat sebagai Ketua Advokasi PP IPM.

Siswa dilarang melakukan Aksi

Sementara itu dipihak lain, Ujian Nasional benar-benar tidak layak untuk dilaksanakan pada tahun ini. Bahkan pelajar dipaksa untuk ikut ujian yang tidak mereka inginkan. “Siswa dilarang untuk menolak sesuatu yang mereka tidak ingingkan yaitu pelaksanaan Ujian Nasional. Merespon banyaknya intmidasi yang dilakukan beberapa sekolah terhadap siswanya yang ingin melakukan aksi tolak UN. Kami ingin melakukan aksi dengan menyuarakan pandapat kami soal Ujian Nasional”. Ujar salah seorang pelajar disalah satu sekolah yang tidak mau disebutkan nama dan sekolahnya.

Di provinsi Bali beberapa orang siswa dilarang ikut aksi Tolak UN karena antara Kepala Sekolah Muhammadiyah dangan DPRD dan dinas pendidikan sudah sepakat untuk dukung Ujian Nasional bahkan mereka melarang menggunakan nama IPM untuk aksi tersebut. “Mereka tidak mau ada unsur Muhammadiyah yang menolak Ujian Nasional, jika IPM tetap mengadakan aksi Tolak UN maka IPM tidak akan dipercaya lagi oleh pihak sekolah”. Ungkap Dzar Albanna selaku Ketua Umum PW IPM Bali. (Fan)

MUI Jabar Tak Larang Valentine


Bandung – MUI Jabar tidak mengharamkan bagi umat muslim yang hendak merayakan Valentine Day atau Hari Kasih Sayang. MUI Jabar juga tidak melarangnya.

Valentine-nya tidak dilarang. Tapi kalau saat perayaan itu dilakukan dengan acara mabuk-mabukan hingga berbuat tindak asusila, nah itu yang dilarang. Sebab tindakan tersebut melanggar aturan agama,” jelas Ketua Fatwa MUI Jabar Salim Umar kepada detikbandung, Jumat (12/2/2010).

Salim menambahkan, diimbau anak muda yang merayakan hari kasih sayang itu jangan menyalahgunakannya dengan aktivitas berlebihan. Apalagi kebablasan dengan melakukan tindakan di luar norma dan agama.

“Kita hanya mengaharamkan sesuatu hal yang memang diharamkan oleh Al Quran dan hadist. Kita pun mewajibkan sesutu yang diwajibkan Al Quran dan hadis juga,” jelasnya.

“Kalau perayaan valentine itu dilakukan dengan acara pidato, jalan-jalan atau kegiatan positif lainnya, ya boleh-boleh saja,” imbuhnya menutup pembicaraan.(bbn/lom)

http://bandung.detik.com

MUI Larang Muslim Rayakan Valentine

SURABAYA (Pos Kota)- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Malang,   dengan tegas melarang muslim mengikuti perayaan hari kasih sayang atau yang akrab disebut Hari Valentine yang jatuh pada 14 Februari nanti.

Menurut pandangan MUI sendiri, fenomena hari kasih sayang ini sudah menyimpang dari filosofinya, meski hal itu tidak diharamkan sesuai aturan yang ada.

Dikatakan Ketua MUI Kabupaten Malang KH Mahmud Zubaidi, Kamis (11/2), kepada sejumlah wartawan menyatakan, valentine itu asalnya dari negara barat sehingga setiap datangnya hari kasih sayang selalu dirayakan oleh masyarakat seluruh dunia dengan berpijak pada sisi humanis.

Artinya, perayaan hari kasih sayang diartikan dengan aksi yang mendasarkan pada bentuk kasih sayang antar manusia. Nah, aturan inilah yang kerap disalahtafsirkan pada masyarakat di Indonesia. Terlebih, hari valentine sendiri bukanlah budaya negara ini.

“Mestinya, bentuk kasih sayang diwujudkan dengan aksi sosial seperti berkunjung ke panti asuhan, yatim piatu, panti jompo, menyantuni anak jalanan, atau memberikan sumbangan kepada orang-orang yang membutuhkan. Termasuk, memberi bantuan pada bayi yang divonis menderita kelainan empedu yang santer dikabarkan media. Daripada harus membuang-buang duit dengan dalih kasih sayang yang semu dan tidak bermanfaat itu,” terang Zubidi.

Zubaidi juga menjelaskan, makna kasih sayang dewasa ini sangat diartikan beda oleh masyarakat Indonesia khususnya kaum muda dan berduit. Mereka lebih menerapkan hari kasih sayang dengan memberikan kado berupa bunga, coklat sampai hal-hal yang bersifat mudhorot dan tercela. Sehingga, hal itu sangat merusak moral dan akhlak.

Menurutnya, filosofi valentine sudah berbelok dan menjadi ajang konsumerisme, maka valentine terlarang bagi kaum muslim. Konsumerisme terjadi karena banyak remaja yang membelanjakan uangnya untuk membeli pernak-pernik valentine. Contohnya, membeli boneka, kue dan penganan berbahan cokelat, buket bunga, kaos dan cinderamata valentin lainnya. Sehingga itu pemborosan, karena cinderamata valentine itu dihadiahkan kepada orang kaya saja dan bukan kepada orang miskin.

Dengan memberikan sesuatu kepada orang yang kaya, yang telah memiliki segalanya, sehingga disisi lain ada orang miskin yang kelaparan, dan itu jelas membutuhkan bantuan. Maka hal itu dilarang oleh syariat Islam, dan tindakan itu jelas terlarang. “Kami menilai bahwa hari kasih sayang terlarang bagi umat muslim,” terang Zubaidi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: