Muktamar IRM di Solo Kembali ke Kihtah 1961

SOLO — Muktamar IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) XVI berlangsung di Solo, Jawa Tengah, 25-29 Oktober 2008, mengukir sejarah bagi perjalanan organisasi otonom Muhammadiyah ini. Salah satu agenda pentingnya adalah, ada keinginan kuat ingin kembali ke kithah 1961 nama asli IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah).
Wacana untuk kembali merubah nama IRM menjadi IPM lagi muncul ketika Muktamar IRM XII di Jakarta. Tapi, keinginan saat itu kurang kuat mendapat dukungan. Masih banyak daerah ingin mempertahankan IRM dengan alasan, banyak kader IRM berasal bukan dari kalangan pelajar.
Wacana kian menguat tatkala Muktamar IRM XV di Medan 2006. Saat itu, desakan wilayah kuat dan semakin meruncing. Tanwir Muhammadiyah di Yogyakarta 2007 merekomendasi kembalinya nama IPM. PP Muhammadiyah mengeluarkan SK No 60/KEP/I.0/B/2007 memutuskan untuk merubah nomenklatur IRM menjadi IPM. ”Dari kelanjutan SK PP Muhammdiyah itu kita ujudkan Muktamar IRM XVI di Solo ini,” tutur Muh. Mudzakir, Ketua Panitia Muktamar IRM XVI kepada wartawan, Kamis (23/10).
Organisasi otonom IPM lahir di Solo 5 Shafar 1381 Hijriyah, atau 18 Juli 1961 Miladiyah. Pergantian nama IPM menjadi IRM 18 November 1992 lantaran ada kebijakan pemerintah tentang tidak boleh penggunaan kata ‘pelajar’ untuk organsiasi berskala nasional.
Nasib serupa dialami IPNU, IPPNU dan PII untuk tidak menggunakan kata ‘pelajar’ sebagai organisasi berskala nasional. Pemerintah hanya mengakui OSIS (Organisasi Siswa Inter Sekolah) satu-satunya organisasi pelajar. ”IPNU, IPPNU, dan PII telah merubah nama organisasinya lebih duluan. IPM paling akhir merubah organisasinya,” tambah Mudzakir.
Menurut Mudzakir, alasan penting merubah nama IRM menjadi IPM adalah, ingin fokus ke basis massa, yakni pelajar. Juga dorongan ingin kembali ke kithah 1961 nama asli saat dilahirkan. Disamping itu, juga IPM diproyeksikan sebagai organisasi paradigma baru sebagai gerakan pelajar. Ini organisasi otonom gerakan Islam, dakwah //amar ma’ruf nahi mungkar// dikalangan pelajar, berakidah Islam dan bersumber Al Qur’an dan As Sunnah.
Agenda penting dalam Muktamar IRM XVI, soal pendidikan politik bagi pelajar. IRM menyerukan, stop kampanye partai politik yang membodohkan, tolak partai politik yang menjadikan pelajar sekadar menjadi pelengkap dalam setiap kampanye, menyeru pada //stakeholder// (pemerintah, sekolah, partai politik) untuk memberikan pendidikan politik memadai, perlunya pendidikan politik yang mencerdaskan pelajar, serta mendesak pemerintah untuk memeasukan materi //civic education// dalam pendidikan kewarganegaraan.
Pendidikan politik, kata Mudzakir, mestinya diberikan juga pada pemilih pemula. ”Ternyata tidak pernah dilakukan,” kata dia. Seolah partai politik melupakan fungsinya dalam melaksanakan pendidikan politik. Pemilih pemula, lanjut dia, kebanyakan pelajar. Menempati hampir 15 persen dari total pemilih. Sehingga tidak dapat disalahkan banyak pemilih pemula pilih tidak mencoblos, atau asal coblos. Ini karena, tidak ada pendidikan politik. Dan, partai politik jaranga yang menggarapnya.
Agenda penting muktamar kali ini,selain kembali ke kithah 1961, juga pertanggung-jawaban kepengurusan PP IRP periode 2006-2008, penyusunan program kerja dua tahun mendatang, dan pemilihan kepemimpinan kepengurusan baru.
Sejumlah nama mulai mencuat kepermukaan arena muktamar berlangsung di Asrama Haji Doonohudan, Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Diantaranya unsur dari PP, Deni Wahyudi, R Ahmadi, Muh Qoyim, Andi  Wijaya, Mahendra Setia Atmaja, Taufik Nugroho (Jateng), Stya P (Yogya), dan masih ada sejumlah nama lagi.
Menurut rencana Wapres Yusuf Kalla dijadwalkan membuka Muktamar IRM dipusatkan di Stadion Sriwedari Solo. Ribuan pelajar Solo dan sekitarnya dilibatkan hadir. Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Gubernur Jateng Bibit Waluyo turut hadir. Kegiatan muktamar dipuatkan di asrama haji dan kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). eds/pt

IRM Resmi Menjadi IPM, Deny WK Ketua Umum Terpilih

Surakarta – Ketukan Palu Sidang Pleno terakhir Muktamar Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM)  Selasa (28/10/2008) secara resmi menetapkan perubahan nama Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Ketukan Palu Hadisra, Presidium Sidang dari Sulawesi Selatan, dalam sidang pleno yang berlangsung di Aula Asrama Haji Donohudan ini juga menetapkan Deny Wahyudi Kurniawan sebagai Ketua Umum  Pimpinan Pusat IPM dengan Sekretaris Jendral  Andy R. Wijaya.

Proses pemilihan yang sempat memundurkan rangkaian acara ini didahului dengan terpilihnya sembilan formatur  yang terdiri dari Andy R. Wijaya dengan 331 suara, Deny Wahyudi Kurniawan dengan 303 suara, Diyah Puspitarini dengan 282 suara, Machendra Setyo Atmojo dengan 262 suara, Nurjannah Seliani Sandiah dengan 225 suara, Virgo Sulianto Gohardi dengan 222 suara, Eka Damayanti dengan 211 suara, Aris Iskandar dengan 197 suara dan Zulfikar Ahmad dengan 188 suara. Menurut ketua Panitia Pemilihan, Masmulyadi, kepada muhammadiyah.or.id, sembilan formatur itu dipilih dari hasil putaran pertama sebanyak 27 kandidat, yang sebelumnya disaring dari 38 kandidat.

Penentuan Ketua Umum dan Sekretaris Jendral yang ditentukan oleh sidang tim formatur berlangsung lancar dan cukup singkat. Pukul 18: 15 WIB acara prosesi penutupan Muktamar oleh Ketua PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir bisa dilakukan. Resmi mulai tanggal 28 Oktober 2008 ini IRM berubah menjadi IPM. Panggilan kaderpun resmi berubah menjadi  Ipmawan dan Ipmawati. “IPM Berjaya !! “ demikian akhir pekik kader-kader IPM se Indonesia di akhir mars yang dinyanyikan petang itu. (Arif)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: